Rabu, 09 Januari 2013

Yang Libur Kuliahnya Loh


Libur kuliah sudah di depan mata, hah di depan mata? Mana? Yang di depan mata masih saja tumpukan materi-materi perkuliahan beserta tugas-tugasnya yang menggunung. Yah memang inilah takdir mahasiswa dengan tugas yang tak henti-hentinya. Ceritanya dosen juga ngejar materi biar memenuhi tugasnya semester ini mengajarkan satu buku. Satu buku sudah di ajarkan dosen, tapi belum tentu satu bab pun yang bertengger lama dalam ingatan mahasiswa. Lagi-lagi itulah istimewanya menjadi mahasiswa bisa melupakan materi perkuliahan kapan saja.

Tapi lain lagi kalo sudah membahas soal liburan. Semuanya menjadi antusias dan berbondong-bondong mengumpulkan rupiah demi rupiah agar tercapainya liburan yang asyik bin menyenangkan. Jangankan mahasiswa, bahkan di barat sana saat muda mereka bekerja mati-matian dan menabung sebanyak-banyaknya demi memiliki masa tua yang bahagia dan bisa keliling dunia. Wisss ini nih yang musti di contoh semangat juangnya, inget semangat juangnya bukan yang lain. Coba saja jika yang didepan mata adalah buku modul yang beratnya 1kg yang disarankan langsung oleh dosen, mau semurah apapun buku itu seakan-akan tak rela mengeluarkan rupiah, iya pakenya dollar soalnya.

Eits jangan salah, ada juga mahasiswa yang rela ga liburan dengan jalan-jalan demi masa depan. Ini nih yang patut di perhitungkan. Biasanya tipe-tipe mahasiswa yang seperti ini tapi dalam lubuk hati yang terdalam masih ingin bersenang-senang akan milih bekerja di taman-taman rekreasi, asalkan liat orang lain seneng mereka juga ikut seneng gitu. Sedangkan yang bertekat bulat dan menegaskan bahwa ‘tidak ada tanggal merah dan liburan dalam kalenderku’ maka ia akan mengisi  liburannya tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik dengan rencana masa depan. Wis pasangan idaman tuh yang seperti itu. Tapi, masa depan yang bukan cuma di dunia loh, inget masa depan yang abadi ada di akhirat.

Jaman sekarang terlebih di ibukota Indonesia ini rekreasi dengan berbagai macam bentuk telah tersedia dan akan selalu sangat amat ramai jika di hari-hari libur. Tapi saat sedang berrekreasi ingatkah kamu dengan ibadahmu? Ini nih yang berat pake banget. Biasanya kalo udah asyik sama acara jalan-jalannya suka lupa waktu sampai nggak makan, nggak istirahat, yang paling parah nggak ibadah. Wah kalo seperti itu liburannya nanti malah nggak berkah dong. Ditambah lagi sulitnya mencari sarana ibadah yang memadai di kawasan-kawasan rekreasi itu.

Contohnya curhat dikit nih pengalaman pribadi di sebuah tempat rekreasi paling ternama sedunia eh se-Indonesia deng. Musholanya ada tapi sangking imutnya jadi dicampur antara ikhwan dan akhwat, nggak ada sekat dan jarak, udah gitu tempah wudhunya terbuka. Sedangkan kami memaksakan untuk wudhu di toilet dimana antrian di toilet sangat panjang, sebenernya tidak tega untuk terpaksa berlama-lama di dalam, tapi apa daya seperti itulah kondisinya. Itu masih mending ada mushola, jadi syukuri saja.

Sekarang bagaimanakah liburan yang menyenangkan, bermanfaat dan tidak melupakan ibadah? Banyak juga pilihannya, salah satunya adalah melakukan hobi yang nggak sempet dilakukan pada saat hari-hari kuliah, contohnya tidur siang waduh itu bukan hobi. Siapa bilang bukan hobi? Yaudah ganti deh contohnya merangkai huruf demi huruf hingga membentuk kata demi kata hingga menjadi kalimat demi kalimat hingga terbentuk paragraf demi paragraf dan jadilah tulisan ini. Ini hobiku, apa hobimu? Hayo apa hobimu.

Tapi biar nggak lupa sama ibadah yang jika kita sudah asyik kadang jadi lupa waktu lebih baik pasang alarm atau aplikasi pengingat sholat di gadget kita. Kalo perlu jangan cuma satu gadget tapi sebanyak-banyaknya biar tidak melewatkan satupun waktu ibadah wajibmu. Biarlah orang berkata fanatik, biarlah orang berkata lebay, yang penting ibadah nggak lupa.

Senin, 07 Januari 2013

Untuk Ukhti yang Insya Allah akan menjadi bidadari surga


Ukhti, sesungguhnya aku sangat iri padamu saat aku melihat di kala ukhti masih kecil dan orangtua mu mengajarimu segala aturan-aturan hidup yang islami.Aku sangat iri dimana dengan kasih dan sayang mereka mengajarimu mengaji, mengajarimu sholat dan memberikanmu ilmu-ilmu akhirat. Segala yang di halalkan dan segala yang diharamkan tentu dengan mudah engkau ketahui ya ukhti. Segala aturan, tata cara, dan gaya hidup yang islami tentu sangat kau ketahui ya ukhti. Di umur belasan tahun pasti engkau telah lancar membaca Qur'an, bahkan telah hafal beberapa juz. Engkau sangat senang menjadi anak sepasang ustadz dan ustadzah yang sangat disegani oleh masyarakat di sekelilingmu.


 Tapi pada saat engkau beranjak dewasa seakan bukan sepasang malaikat berwujud manusia itu lagi yang membuatmu bahagia. Seakan-akan ada orang lain yang lebih baik dari orang yang telah Allah kirim untukmu.Ya ukhti, sesungguhnya apa yang membuatmu menjadi jenuh dengan kehidupanmu yang sangat membuatku iri itu? Apakah gejolak kawula muda membuatmu melupakan segala yang telah orangtuamu tanamkan dalam-dalam di hatimu?Ukthi, sesungguhnya jika aku boleh memilih aku ingin terlahir dari keluarga sepertimu. Dimana aku bisa dengan bangga menunjukkan manfaat dari keaktifanku dalam organisasi Islam. Dimana aku bisa menunjukkan pada semua orang mana yang benar dan mana yang salah dalam pandangan agama. 


Ukhti, jika Allah tak memberiku rasa haus akan ilmu agama mungkin saat ini aku masih konser tengah malam di restoran cepat saji. Bukan berarti mereka yang konser disana tidak mengerti agama, tapi aku jadi menyadari kodratku sebagai wanita yang harus bisa menjaga nama baik keluargaku bagaimanapun bentuk keluargaku saat ini. Walaupun mungkin mereka lebih bangga melihatku berjingkrak-jingkrak dari panggung ke panggung. Dan akupun mulai merindukannya. Bila mengingat semua itu rasanya aku masih ingin berusaha meraih mimpi-mimpi itu. Tapi aku menyadari masih banyak jalan untuk membahagiakan kedua orangtuaku.


Ukhti pernahkah terpikir darimu seberapa banyak airmata yang tumpah dari mataku untuk keinginan berhijab sedangkan banyak yang dengan mudah melepaskan lagi jilbabnya demi duniawi. Ukhti ini Indonesia, negara mayoritas muslim yang akan mendukungmu untuk terus menutup auratmu. Ukhti jangan sampai pekerjaan membuatmu melepaskan indahnya dan nyamannya uluran jilbabmu. Ukhti Allah telah berjanji bila kamu meninggalkan sesuatu demi agama Allah maka Allah akan mengganti sesuatu itu dengan yang jauh lebih baik dari pada yang telah kamu tinggalkan itu. Ukhti percaya kan dengan janji-janji Allah? Aku yang masih minim pengetahuan agama saja percaya, masa ukhti yang sudah mengerti masih kalah dengan tuntutan duniawi?

 

Ukhti taukah kau impian terbesarku selain menjadi istri dan ibu yang solehah di keluarga yang Islami? Impian itu adalah menjadikan keluargaku saat ini menjadi keluarga yang memandang segala sesuatunya secara Islami. Aku tau itu bukanlah hal yang mudah. Namun tak ada yang tidak mungkin bukan? Inilah yang membuatku terkesan sangat haus dan rakus dengan ilmu-ilmu agama. Bahkan aku ingin terus nekat agar ilmu-ilmu yang kurasa masih sangat amat jauh dari ilmu yang sekarang aku ketahui dapat aku ketahui secepatnya. Karena aku ingin impian-impian itu tak hanya menjadi sekedar impian. Karena aku ingin segala sesuatu yang berhubungan dengan duniawi dapat dipikirkan dalam pandangan agama juga.


Ukhti, aku sangat terharu dengan seseorang yang senantiasa membimbing dan melindungiku dengan caranya yang indah. Dialah sahabatku ukhti, sahabat yang telah membuka mataku bahwa aku tak sendirian dalam perjuangan berat ini. Dialah orang yang bisa merubah pemikiranku tentang duniawi dengan caranya yang unik. Dialah seseorang yang telah memberikan kado ulang tahun terindah dalam hidupku. 


Tapi ukhti aku senantiasa bersyukur dengan keluargaku saat ini. Karena merekalah yang telah membuatku hingga menjadi sebesar ini dan merekalah yang telah mengarahkanku hingga aku masuk dalam kampus tarbiyah ini yang tadinya tak sama sekali keinginanku untuk melirik kampus ini. Walaupun orangtuaku bukanlah seorang ustadz dan ustadzah yang sering memimpin pengajian, namun merekalah inspirasiku hingga aku bisa menjadi seperti sekarang dan ayahlah orang yang menginspirasiku hingga aku memiliki tekat untuk bisa merubah segalanya menjadi lebih baik.


Ukhti saat ini aku tak ingin memilih orang tua lain, aku sangat amat bahagia dengan orang tuaku yang sekarang. Aku talah menyadari bahwa peranan dan sifat kedua orangtuaku yang is the best. Terlebih mama yang menjadi super human di rumah dan papa yang menjadi super man dalam perjuangannya memimpin keluarga dan bertanggung jawab atas segala keperluan keluarga. Merekalah malaikat-malaikat berwujud manusia yang telah Allah kirim untukku, adik dan kakakku. ^_^