Rabu, 29 Januari 2014

Surat Cinta untuk Persahabatan Kecil

Cerita ini bukanlah cerita fiksi, ini sebuah cerita pengalaman hidup ditambah pemikiran dari seorang manusia biasa yang sedang belajar, ingin belajar dan banyak salah. Berawal dari kemajuan teknologi yang mengantarkan semua orang pada pertemuan-pertemuan jarak jauh, entah dengan orang yang pernah di kenalnya sebelumnya atau bahkan yang tak pernah di temui secara langsung hingga saat ini. Namun yang menarik adalah ternyata banyak perubahan kawan lama ke arah yang baik. Ya, semoga Allah senantiasa memberikan hidayah atas jalan hidup kita. Semoga kita bisa konsisten dalam berbuat baik dan memperbaiki segala sifat buruk kita.

Tiba-tiba setelah bertahun-tahun lamanya tak berjumpa dengan kawan lama, ada satu kawan lama yang menarik perhatian. Di masa-masa kepolosan dan keluguanku dia bagaikan api yang siap membakar pohon yang sedang tumbuh dengan baik. Ya aku tiba-tiba berpikir seperti itu tentang dirinya. Astaghfirullah. Walau bagaimanapun ia tetaplah hamba Allah. Dia tetaplah manusia yang bisa melakukan khilaf dan salah sama sepertiku. Tak seharusnya aku mencelanya, apalagi memberikan pengandaian kepadanya sebagai api. Namun aku bersyukur karena tak terbakar olehnya.

Kawan, ingatkah saat kau mengambil uang saku ku dari dalam tas ku?
Kawan, ingatkah saat kau mengambil uang saku ku dari dalam tempat pensil ku?
Kawan, ingatkah saat aku terpaksa harus berjaga di dalam kelas dan menyuruh teman untuk membelikanku makanan agar kau tak membuka tas ku?
Kawan, ingatkah saat aku memergokimu sedang menggeledah tempat pensil ku yang berada di dalam tas ku? Yang kau bilang kau hanya ingin meminjam pensil?
Kawan, aku ingin mengetahui ada apa dengan kelas kita? kenapa bisa ada pencurian di ruangan kelas 1 Sekolah Dasar?

Kawan, kita masih terlalu dini untuk mengenal kata pencurian, kita masih terlalu lugu untuk melakukan tindakan kriminal, dan kita juga masih terlalu polos untuk mengotori diri dengan kebohongan.
Kawan, sebenarnya apa yang kau inginkan dengan uang-uang itu? Aku bahkan belum mengerti bahwa uang adalah benda yang sangat berharga dan aku baru tahu setelah aku dewasa bahwa untuk mendapatkannya papa harus bekerja dari pagi hingga petang.
Kawan, sungguh aku masih terlalu lugu dengan kehidupan pada saat itu. Aku masih terlalu polos untuk memikirkan bagaimana untuk mendapatkan uang. Karena aku mendapatkannya dengan mudah dari mama, dan kau mendapatkannya dengan susah payah dari dalam tas ku.

Tahun berganti dan aku tak lagi memberikanmu kesempatan untuk menambah dosa yang orang tuamu tanggung. Tak ada lagi uang yang aku taruh di dalam tas, semuanya ada di saku dan benar-benar menjadi uang saku untuk ku. Aku harap itu menjadi akhir dari segala perbuatan tak menyenangkan darimu dan biarlah kita lupakan segala yang telah terjadi, sungguh aku tak meminta sedikitpun pertanggungjawaban darimu atas perbuatanmu itu karena aku merasa mungkin dirimu hanya ingin membeli mainan dengan uang-uang itu.

Aku sudah jarang mendengar kabar darimu dan kawan-kawan lain setelah aku pergi ratusan kilometer dari kota kelahiran kita. Tapi sekarang ternyata berhembus kabar tak mengenakkan lagi darimu. Saat ini aku tak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkanmu dari cibiran dan caci orang lain. Di usia yang sekarang mungkin aku sudah mengerti bagaimana kepopuleran uang di tengah-tengah kehidupan kita, tapi kawan mengapa harus kau lakukan lagi hal yang serupa tapi tak sama dengan hal yang pernah kau lakukan dahulu?

Aku di sini hanya bisa mengirimkan doa untukmu agar Allah tancapkan hidayah-Nya dalam-dalam ke hatimu dan untuk keluargamu agar di berikan ketabahan juga kekuatan atas segala hal yang telah kau perbuat. Kawan, kita pernah bertahun-tahun tumbuh di lingkungan yang sama namun jalan mana yang kau pilih saat dewasa haruslah jalan yang membawamu kepada kesuksesan dunia akhirat. Kawan, aku juga manusia biasa, namun karena itulah aku merasa takut masuk neraka dan menginginkan surga. Kawan, maafkan aku jika aku tak sependapat dan sepemikiran denganmu.

Aku mengerti bagaimana kekuatan uang, terlebih kehidupan di kota ku tinggal sekarang. Tapi sebanyak apapun uang yang manusia miliki takkan ada kata puas jika manusia hanya mengandalkan nafsu belaka. Bersyukur dengan apa yang ada dan berusaha mendapatkannya dengan jalan yang halal akan membawamu kepada kepuasan bathin. Aku yakin kau adalah anak yang baik, kau pasti tak ingin orang tuamu menanggung malu dunia akhirat kan? Mari sama-sama kita perbanyak bertaubat kepada Sang Pencipta, selagi belum terlambat dan kita masih bisa untuk memperbaikinya.

Sahabat sejati takkan terlihat saat kau mengaku kaya raya, sehat, dan cantik. Tapi sabahat sejati terlihat saat kau mengaku miskin, sakit dan buruk rupa. Hasil yang baik diproses dengan cara yang baik pula. Sesuatu yang didapat dengan jalan haram takkan pernah mengantarkan pada keberkahan Allah. Aku tak ada niat untuk menyebarkan aibmu karena tak satupun nama ku sebut di sini tapi aku harap kau mengerti bahwa banyak yang akan tetap menyanyangimu meski kau bukan seorang permaisuri, surat cinta ini ku buat dengan sebuah harapan akan kecintaan kita agar kembali kepada Sang Pencipta.

Maafkan aku kawan jika ada kata-kata yang salah dan menyakitimu, aku hanyalah manusia yang banyak dosa. Aku hanya ingin menceritakan masa kecil kita dan masa kini kita yang aku pun lebih banyak menghabiskannya untuk mengumpulkan dosa. Tapi percayalah Allah punya rencana indah yang harus kita wujudkan dalam kenyataan. J

Rabu, 09 Januari 2013

Yang Libur Kuliahnya Loh


Libur kuliah sudah di depan mata, hah di depan mata? Mana? Yang di depan mata masih saja tumpukan materi-materi perkuliahan beserta tugas-tugasnya yang menggunung. Yah memang inilah takdir mahasiswa dengan tugas yang tak henti-hentinya. Ceritanya dosen juga ngejar materi biar memenuhi tugasnya semester ini mengajarkan satu buku. Satu buku sudah di ajarkan dosen, tapi belum tentu satu bab pun yang bertengger lama dalam ingatan mahasiswa. Lagi-lagi itulah istimewanya menjadi mahasiswa bisa melupakan materi perkuliahan kapan saja.

Tapi lain lagi kalo sudah membahas soal liburan. Semuanya menjadi antusias dan berbondong-bondong mengumpulkan rupiah demi rupiah agar tercapainya liburan yang asyik bin menyenangkan. Jangankan mahasiswa, bahkan di barat sana saat muda mereka bekerja mati-matian dan menabung sebanyak-banyaknya demi memiliki masa tua yang bahagia dan bisa keliling dunia. Wisss ini nih yang musti di contoh semangat juangnya, inget semangat juangnya bukan yang lain. Coba saja jika yang didepan mata adalah buku modul yang beratnya 1kg yang disarankan langsung oleh dosen, mau semurah apapun buku itu seakan-akan tak rela mengeluarkan rupiah, iya pakenya dollar soalnya.

Eits jangan salah, ada juga mahasiswa yang rela ga liburan dengan jalan-jalan demi masa depan. Ini nih yang patut di perhitungkan. Biasanya tipe-tipe mahasiswa yang seperti ini tapi dalam lubuk hati yang terdalam masih ingin bersenang-senang akan milih bekerja di taman-taman rekreasi, asalkan liat orang lain seneng mereka juga ikut seneng gitu. Sedangkan yang bertekat bulat dan menegaskan bahwa ‘tidak ada tanggal merah dan liburan dalam kalenderku’ maka ia akan mengisi  liburannya tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik dengan rencana masa depan. Wis pasangan idaman tuh yang seperti itu. Tapi, masa depan yang bukan cuma di dunia loh, inget masa depan yang abadi ada di akhirat.

Jaman sekarang terlebih di ibukota Indonesia ini rekreasi dengan berbagai macam bentuk telah tersedia dan akan selalu sangat amat ramai jika di hari-hari libur. Tapi saat sedang berrekreasi ingatkah kamu dengan ibadahmu? Ini nih yang berat pake banget. Biasanya kalo udah asyik sama acara jalan-jalannya suka lupa waktu sampai nggak makan, nggak istirahat, yang paling parah nggak ibadah. Wah kalo seperti itu liburannya nanti malah nggak berkah dong. Ditambah lagi sulitnya mencari sarana ibadah yang memadai di kawasan-kawasan rekreasi itu.

Contohnya curhat dikit nih pengalaman pribadi di sebuah tempat rekreasi paling ternama sedunia eh se-Indonesia deng. Musholanya ada tapi sangking imutnya jadi dicampur antara ikhwan dan akhwat, nggak ada sekat dan jarak, udah gitu tempah wudhunya terbuka. Sedangkan kami memaksakan untuk wudhu di toilet dimana antrian di toilet sangat panjang, sebenernya tidak tega untuk terpaksa berlama-lama di dalam, tapi apa daya seperti itulah kondisinya. Itu masih mending ada mushola, jadi syukuri saja.

Sekarang bagaimanakah liburan yang menyenangkan, bermanfaat dan tidak melupakan ibadah? Banyak juga pilihannya, salah satunya adalah melakukan hobi yang nggak sempet dilakukan pada saat hari-hari kuliah, contohnya tidur siang waduh itu bukan hobi. Siapa bilang bukan hobi? Yaudah ganti deh contohnya merangkai huruf demi huruf hingga membentuk kata demi kata hingga menjadi kalimat demi kalimat hingga terbentuk paragraf demi paragraf dan jadilah tulisan ini. Ini hobiku, apa hobimu? Hayo apa hobimu.

Tapi biar nggak lupa sama ibadah yang jika kita sudah asyik kadang jadi lupa waktu lebih baik pasang alarm atau aplikasi pengingat sholat di gadget kita. Kalo perlu jangan cuma satu gadget tapi sebanyak-banyaknya biar tidak melewatkan satupun waktu ibadah wajibmu. Biarlah orang berkata fanatik, biarlah orang berkata lebay, yang penting ibadah nggak lupa.

Senin, 07 Januari 2013

Untuk Ukhti yang Insya Allah akan menjadi bidadari surga


Ukhti, sesungguhnya aku sangat iri padamu saat aku melihat di kala ukhti masih kecil dan orangtua mu mengajarimu segala aturan-aturan hidup yang islami.Aku sangat iri dimana dengan kasih dan sayang mereka mengajarimu mengaji, mengajarimu sholat dan memberikanmu ilmu-ilmu akhirat. Segala yang di halalkan dan segala yang diharamkan tentu dengan mudah engkau ketahui ya ukhti. Segala aturan, tata cara, dan gaya hidup yang islami tentu sangat kau ketahui ya ukhti. Di umur belasan tahun pasti engkau telah lancar membaca Qur'an, bahkan telah hafal beberapa juz. Engkau sangat senang menjadi anak sepasang ustadz dan ustadzah yang sangat disegani oleh masyarakat di sekelilingmu.


 Tapi pada saat engkau beranjak dewasa seakan bukan sepasang malaikat berwujud manusia itu lagi yang membuatmu bahagia. Seakan-akan ada orang lain yang lebih baik dari orang yang telah Allah kirim untukmu.Ya ukhti, sesungguhnya apa yang membuatmu menjadi jenuh dengan kehidupanmu yang sangat membuatku iri itu? Apakah gejolak kawula muda membuatmu melupakan segala yang telah orangtuamu tanamkan dalam-dalam di hatimu?Ukthi, sesungguhnya jika aku boleh memilih aku ingin terlahir dari keluarga sepertimu. Dimana aku bisa dengan bangga menunjukkan manfaat dari keaktifanku dalam organisasi Islam. Dimana aku bisa menunjukkan pada semua orang mana yang benar dan mana yang salah dalam pandangan agama. 


Ukhti, jika Allah tak memberiku rasa haus akan ilmu agama mungkin saat ini aku masih konser tengah malam di restoran cepat saji. Bukan berarti mereka yang konser disana tidak mengerti agama, tapi aku jadi menyadari kodratku sebagai wanita yang harus bisa menjaga nama baik keluargaku bagaimanapun bentuk keluargaku saat ini. Walaupun mungkin mereka lebih bangga melihatku berjingkrak-jingkrak dari panggung ke panggung. Dan akupun mulai merindukannya. Bila mengingat semua itu rasanya aku masih ingin berusaha meraih mimpi-mimpi itu. Tapi aku menyadari masih banyak jalan untuk membahagiakan kedua orangtuaku.


Ukhti pernahkah terpikir darimu seberapa banyak airmata yang tumpah dari mataku untuk keinginan berhijab sedangkan banyak yang dengan mudah melepaskan lagi jilbabnya demi duniawi. Ukhti ini Indonesia, negara mayoritas muslim yang akan mendukungmu untuk terus menutup auratmu. Ukhti jangan sampai pekerjaan membuatmu melepaskan indahnya dan nyamannya uluran jilbabmu. Ukhti Allah telah berjanji bila kamu meninggalkan sesuatu demi agama Allah maka Allah akan mengganti sesuatu itu dengan yang jauh lebih baik dari pada yang telah kamu tinggalkan itu. Ukhti percaya kan dengan janji-janji Allah? Aku yang masih minim pengetahuan agama saja percaya, masa ukhti yang sudah mengerti masih kalah dengan tuntutan duniawi?

 

Ukhti taukah kau impian terbesarku selain menjadi istri dan ibu yang solehah di keluarga yang Islami? Impian itu adalah menjadikan keluargaku saat ini menjadi keluarga yang memandang segala sesuatunya secara Islami. Aku tau itu bukanlah hal yang mudah. Namun tak ada yang tidak mungkin bukan? Inilah yang membuatku terkesan sangat haus dan rakus dengan ilmu-ilmu agama. Bahkan aku ingin terus nekat agar ilmu-ilmu yang kurasa masih sangat amat jauh dari ilmu yang sekarang aku ketahui dapat aku ketahui secepatnya. Karena aku ingin impian-impian itu tak hanya menjadi sekedar impian. Karena aku ingin segala sesuatu yang berhubungan dengan duniawi dapat dipikirkan dalam pandangan agama juga.


Ukhti, aku sangat terharu dengan seseorang yang senantiasa membimbing dan melindungiku dengan caranya yang indah. Dialah sahabatku ukhti, sahabat yang telah membuka mataku bahwa aku tak sendirian dalam perjuangan berat ini. Dialah orang yang bisa merubah pemikiranku tentang duniawi dengan caranya yang unik. Dialah seseorang yang telah memberikan kado ulang tahun terindah dalam hidupku. 


Tapi ukhti aku senantiasa bersyukur dengan keluargaku saat ini. Karena merekalah yang telah membuatku hingga menjadi sebesar ini dan merekalah yang telah mengarahkanku hingga aku masuk dalam kampus tarbiyah ini yang tadinya tak sama sekali keinginanku untuk melirik kampus ini. Walaupun orangtuaku bukanlah seorang ustadz dan ustadzah yang sering memimpin pengajian, namun merekalah inspirasiku hingga aku bisa menjadi seperti sekarang dan ayahlah orang yang menginspirasiku hingga aku memiliki tekat untuk bisa merubah segalanya menjadi lebih baik.


Ukhti saat ini aku tak ingin memilih orang tua lain, aku sangat amat bahagia dengan orang tuaku yang sekarang. Aku talah menyadari bahwa peranan dan sifat kedua orangtuaku yang is the best. Terlebih mama yang menjadi super human di rumah dan papa yang menjadi super man dalam perjuangannya memimpin keluarga dan bertanggung jawab atas segala keperluan keluarga. Merekalah malaikat-malaikat berwujud manusia yang telah Allah kirim untukku, adik dan kakakku. ^_^

Jumat, 23 November 2012

Olokan Adalah Penyemangatku


Fanatik, aku sempat ingin tertawa terbahak-bahak saat ada orang yang berkata seperti itu padaku. Jika aku yang masih begini saja dibilang fanatik bagaimana dengan kawan-kawan yang lebih dahulu berkecimpung dalam Rohis dan organisasi-organisasi Islam lainnya? Mungkin mereka tidak akan berkedip bila melihat segala aktivitas yang dilakukan kawan-kawan itu. Aku juga tidak mengerti dari sisi mana mereka melihat kefanatikan itu pada diriku, padahal jika diperhatikan sekilas saja segala tingkah lakuku masih sangat amat jauh bila dikatakan fanatik yang sebenarnya. Jadi dari mana kata itu bisa terpikirkan oleh mereka?

Mungkin bila mereka hanya berkata berubah aku masih akan meng'iya'kan, karena jangankan mereka, orang-orang terdekatkupun (keluarga) merasa betul perubahan pada diriku. Tapi jika perubahan itu ke arah yang baik apakah harus ada kontra? Jika perubahan itu untuk menyudahi segala kezaliman pada diri sendiri apakah harus dimusuhi? Ya kembali lagi pada kodrat kita sebagai manusia, memang selalu akan ada pro dan kontra. Yang harus dilakukan hanyalah bersyukur, ya mungkin agak ganjil bila rasanya saat dijelek-jelekkan orang lain kita malah bersyukur. Tapi mereka yang menjelek-jelekkan kita, mereka yang kontra dengan kita, bahkan mereka yang memandang kita sebelah mata sesungguhnya mereka itulah orang yang lebih memperhatikan kita. Bahkan mereka bukan hanya memperhatikan, karena mereka juga memberikan kritik bila yang kita lakukan masih salah. Jadi, apa tidak sepatutnya kita bersyukur dengan keberadaan mereka? Justru mata mereka melihat lebih jernih untuk mengomentari segala kekurangan kita dalam menjalankan syariat Allah.

Aku sangat amat menyadari jika ilmuku belum ada apa-apanya, aku juga belum bisa berbuat apa-apa, menjadi sesuatupun belum bisa. Namun aku yakin Allah memberikan jalan yang terbaik untuk seluruh umat manusia. Tak peduli manusia itu pengoleksi dosa ataupun seorang Muhajidin-Muhajidah, Allah sudah menyediakan tempat terbaik untuk mereka. Jadi, memang tak ada kekhawatiran apapun dalam hati ini karena aku sudah yakin dan sangat amat yakin akan janji Allah kepada seluruh umat manusia. Tidak perlu memikirkan kekhawatiran-kekhawatiran lain, karena yang harus kita lakukan saat ini adalah menjalani setiap langkah kaki dengan pahala, menyertakan setiap hembus nafas dengan bertasbih kepada Allah. Ya semua terasa lebih indah karena Allah akan menyertai setiap langkah kita. Bukan seperti dahulu yang setiap langkah kita disertai seruan-seruan menjerumuskan.

Dan berubahpun tak semudah apa yang dibayangkan. Dahulu aku berpikir mungkin dengan berubah aku tak akan lagi dipandang wanita ‘nakal’ yang pulang tengah malam atau dini hari, bahkan baru pulang keesokan harinya. Walaupun aku tak melakukan hal yang aneh-aneh dan memang mereka tak tau dan tak mau tau dengan apa saja yang aku lakukan, yang pasti mereka hanya melihat dan mendengar aku pulang selarut itu sehingga pikiran negatifpun lebih banyak menyelimuti pikiran mereka. Tapi aku menyadari walaupun sebenarnya aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh dengan pulang selarut itu tapi ternyata posisiku tetap salah karena aku wanita dan diluar sana aku tidak untuk mencari pahala ataupun ilmu dunia akhirat, tetapi mencari popularitas duniawi dan hanya duniawi. Dan lagi-lagi dari kritiklah hatiku digugah.

Maha Besar Allah yang telah memberikan begitu banyak petunjuk padaku yang aku selalu meremehkan dan menganggap segala kebaikan adalah suatu keburukan. Namun Allah dengan sabar senantiasa mengalirkan dengan deras segala petunjuk-petunjuknya hingga kini aku telah dapat tersenyum dan menyadari adanya hikmah atas kejadian yang ada dan menerima dengan ikhlas segala yang terjadi di masa lalu. Segala ingatan itu mungkin akan terus ada, namun inilah yang akan ku jadikan pondasi agar tak lagi terulang kesalahan yang sama.

Dan lagi-lagi olokan beserta sindiran masih jelas terdengar saat aku telah memutuskan untuk berhijab. Ya mungkin aku dianggap masih main-main dengan hijab ini, dan aku tidak akan berkata apapun untuk membela diri dan menyangkalnya karena aku hanya bisa meminta kepada Allah disetiap harinya agar Allah senantiasa meneguhkan hatiku dan memperkuat imanku sehingga aku tidak tergoda akan duniawi yang berlebihan. Dan sekali lagi sindiran itu menjadikanku semakin teguh untuk tidak main-main dengan komitmen. Senyuman-senyuman mereka akan kelengahanku ku jadikan sebuah teguran untukku bisa memperbaiki diri dari hari ke hari walaupun pada nyatanya itu sangat amat sulit. Namun tak ada yang tidak mungkin, jika Allah sudah berkehendak maka apapun bisa terjadi. Dan aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan akan hidayah Allah yang sebenarnya sudah Allah kirimkan padaku berkali-kali di kesempatan sebelumnya.

Rasanya seperti tak percaya pada diri sendiri jika melihat diriku yang beberapa bulan silam, walaupun memang saat ini aku masih biasa saja, namun rasanya segala kegiatanku saat ini berubah 180 derajat dari masa lalu, dan kesibukan akan kehausanku dengan popularitas berubah menjadi kehausan akan kehidupan dunia yang berlandaskan akhirat, Insya Allah. Saat ini bagiku tak ada waktu untuk menangisi masa lalu, tak ada waktu untuk menangisi kata orang. Karena saat ini yang aku inginkan hanyalah ilmu, ilmu dan ilmu. Ilmu yang akan mengantarkan umat manusia pada surga-Nya. Aku ingin berjalan satu barisan dengan Rasulullah di akhirat nanti. Aku ingin menjadi anak solehah yang menyelamatkan kedua orangtuaku dari api neraka. Dan semua itu tak akan bisa terjadi tanpa kritik, saran, sindiran, bahkan olokan dari umat manusia.

I Love Allah

Selasa, 20 November 2012

Sahabat Sejatimu


"Buat apa sih ngabisin waktu di organisasi? Apalagi organisasi yang keliatannya nggak fun gitu? Bukannya lebih keren kalo kamu masuk organisasi yang dulu kamu geluti? Masa dulunya berkawan sama club motor sekarang begini?" bila di tanya seperti itu aku selalu tersenyum sembari berkata "Kamu sendiri buat apa kuliah?" jika di jawab "Loh ya biar dapet ilmu dan title Sarjana dong!" aku tersenyum lagi "Di dunia? Kalo di akhirat nggak mau dapet title Sarjana juga?"  "Emang di akhirat ada title Sarjana juga?" Nah kalo kamu mau tau ikut aku yuk! Apakah jika terjadi seperti itu Anda akan diam sejenak, berpikir dengan konsekwensi apa saja yang bisa di terimanya apabila mengikuti organisasi yang kental akan nilai agama Islam?
Jika kita sudah mau dengan sendirinya, pintu organisasi tersebut akan selalu terbuka untuk semua orang yang mau belajar, termasuk menjawab tanda tanya kamu selama ini. Aku melanjutkan langkahku dengan teguh untuk masuk ke organisasi yang tak pernah aku bayangkan sejak dulu jika aku akan ada di dalamnya.
Dengan yakin aku memasuki mushola yg tidak jauh dari gedung kuliahku, terlintas segala yang pernah ku lakukan beberapa bulan yang lalu. Tak sedikitpun aku mengingat-Nya, bahkan dengan perasaan biasa saja aku melakukan dosa yang jelas-jelas di larang. Jika ada yang berkata tak ada manusia yang sempurna dan setiap manusia akan berbuat salah, ya namun bila bisa perbuatan salah iu di hindari dan di minimalisisr kenapa tidak.
 Akupun masih merasa tak pantas berada di tempat ini. Tapi tak ada kata terlambat untuk belajar, dan pengalaman memang guru yang paling tegas. Waktu memang tidak dapat di putar dan biarkan masa lalu menjadi kenangan. Aku mungkin belum sepenuhnya mendapatkan hidayah itu, namun aku harus berusaha agar hidayah datang padaku di saat yang tepat dan indah.
Aku bertekat untuk lebih mengenal penciptaku dan seluruh alam semesta beserta isinya. Sangat banyak hal yang aku belum tahu tentang ajaran Islam. Namun yang membuatku terkejut adalah sikap pengurus yang tetap ramah denganku yang bahkan tidak berpakaian Syar'I, akupun sering mengaku minder dengan teman-teman di organisasi ini, tapi tanggapan mereka baik dan mereka bersedia mengajariku dan menjawab tanyaku. Ya itu yang membuatku nyaman berada di sini. Tidak ada yang membedakan antara senior dan junior, semua saling mengajari dan menghargai seperti seharusnya sebagai organisasi Islam.
Aku memang masih baru dalam belajar Agama, yah aku rasa tidak ada kata terlambat untuk belajar. Dahulu aku bukanlah wanita yang baik, masa lalu kelam hingga saat ini memang belum dapat aku lupakan, terlebih saat orang-orang di sekitarku membahas orang-orang yang kini telah menjadi masa laluku, aku selalu teringat akan semua itu.
 Jika kebanyakan di dalam organisasi ini memakai jilbab panjang, hingga saat ini aku bahkan belum sekalipun pernah mengenakannya. Jika kebanyakan di dalam organisasi ini membaca Al-Qur’an tiap selesai sholat, aku malah selalu membaca info-info duniawi. Bahkan sholat sangat jarang aku kerjakan. Namun entah mengapa aku berani langsung mengambil langkah untuk bergabung dengan pendakwah-pendakwah yang bisa di bilang pemikiran mereka tentang dunia fana sangat jauh dengan apa yang sampai sekarang masih aku tekuni, walau aku sebenarnya sudah sedikit tahu mana yang bermanfaat hanya di dunia dan mana yang bermanfaat di akhirat juga.
Ya hingga saat ini aku masih sangat senang mencari kebahagiaan duniawi, bahkan aku ingin mempersembahkan kebahagiaan duniawi kepada kedua orangtuaku. Teman-temanku yang hanya mengenal dunia mungkin bangga dengan apa yang ingin aku persembahkan kepada kedua orangtuaku, namun berbeda dengan teman-teman Al-Biruni, menurut mereka hmmm bukan mereka namun menurut ajaran Islam yang telah mereka pahami dunia ini memang fana semata, berbeda dengan akhirat dimana kita akan hidup abadi di dalamnya.
Informasi yang kurang seputar organisasi ini membuatku merasa sedikit terlambat untuk mengikuti segala kegiatan yang ada di sini. Awal masuk kampus ini aku memang sudah tertarik dengan organisasi Islam, namun aku sempat merasa segan karena penampilanku yang belum Istiqomah. Butuh waktu selama kurang lebih satu semester sampai aku bertekat tetap masuk ke organisasi ini meski belum berpakaian Syar’i dengan di dorong oleh rasa haus akan ilmu agama yang selama ini hanya sedikit aku ketahui tanpa ku pahami.
Awalnya aku tertarik dengan organisasi ini pada saat wawancara pra MPA, namun aku tidak tahu banyak lagi kabar tentang organisasi ini. Aku berharap dengan masuk ke sini akan menjadikanku wanita yang semestinya, wanita yang tidak menomor satukan ego untuk menguasai segala yang berhubungan dengan duniawi semata. Namun juga bisa menjadi wanita surga dan mengajak kedua orangtua ku ke surga. Aamiin Ya Robbal Alamin. Dan sangat aku sadari jika sangat amat banyak hal yang aku belum tahu tentang Islam.
Dan benar saja jika ini di namakan organisasi Islam, semua memperlakukanku dengan sama rata, tak ada perbedaan antara akhwat yang berjilbab dengan yang tidak berjilbab, yang membedakan hanya mereka telah mengetahui apa itu Islam, sedangkan aku belum. Perbedaan hanya bagaimana bahasa berbicara dan sikap mereka yang aku rasakan masih sangat kontras dengan aku yang sekarang. Organisasi ini memang tidak terlalu menggembor-gemborkan segala aktifitasnya kecuali memang aktifitas umum, berbeda dengan organisasi lain yang selalu ingin di anggap ada.
Acara di organisasi ini terkesan simple, bahkan terkadang jadi kurang di perhitungkan karena waktu yang mendadak dan tidak sempat mengumpulkan dana dan rencana yang benar-benar matang. “Ya namanya juga Indonesia”, mungkin kata-kata itu sudah tidak asing lagi, namun jika bisa mempersembahkan yang terbaik kenapa tidak? Walaupun acaranya sangat seru namun akan lebih seru jika acara dapat berjalan sesuai rencana, karena selain semua acara dapat terselenggara dengan baik kita akan mendapatkan kepuasan bathin atas kinerja yang dapat berjalan dengan baik dan matang. Jadikanlah Indonesia Negara yang disiplin, agar pemerintah malu dengan rakyatnya yang tidak berkuasa namun dapat menguasai kemalasannya. Jika bukan di mulai dari diri sendiri lalu siapa lagi. Hmmm kok jadi politik, balik lagi ke bahasan.
Event memang selalu sangat bermanfaat namun bagi yang kebetulan datang karena sedang tidak ada jadwal kuliah lantas dapat mengikuti event tersebut. Namun bagaimana dengan yang tidak datang? Ya tidak ada pengulangan materi ataupun share catatan yang dapat di baca khalayak umum yang kebetulan berhalangan hadir. Namun begitu masih banyak juga materi yang sangat bermanfaat bagi pembaca yang di share di grup ataupun di dunia maya, dimana terkadang malah menimbulkan pro dan kontra.
Dan ternyata kehidupan jaman sekarang sangat tergantung dan banyak berhubungan dengan dunia maya, mungkin bila di pergunakan dengan baik dapat juga menimbulkan sangat amat banyak manfaat baik, namun bagaimana bila mempergunakan dunia maya dengan tujuan tidak baik bahkan dapat menimbulkan kerugian orang lain? Ya itu yang sekarang banyak di salah gunakan masyarakat luas.
Namun sepertinya peluang dakwah di dunia maya akan lebih menarik apabila di kemas dengan cara yang menarik pula dan tidak ada kesan menggurui, selain itu informasi dakwah akan lebih cepat sampai kepada masyarakat dan dapat menjangkau semua kalangan, bahkan kalangan remaja yang sedang mencari jati diri jangan sampai salah informasi karena berguru dengan situs yang penuh tanda tanya. Ya karena dakwah bukan hanya menjangkau teman dan kerabat saja, namun akan lebih bermanfaat luas apabila menjangkau semua kalangan.
Namun ternyata untuk berubah tak semudah apa yang selama ini aku bayangkan, untuk mendekatkan diri ke pencipta saja aku belum sepenuhnya paham. Hingga saat ini juga aku masih belum tahu mana yang ghibah dan mana yang di perbolehkan, mana yang hadits palsu mana yang lemah dan mana yang kuat. Mencari di internet pun ternyata tidak sepenuhnya dapat di percaya ada hadits-hadits yang ternyata sebelumnya tidak pernah ada dan di buat seakan-akan itu hadits asli yang kuat yang memang telah ada pada jaman Rasulullah SAW. Ya karena ghibah sebenarnya telah menjadi virus yang merajalela dengan pesat di seluruh dunia dan melekat erat di budaya dan gaya hidup manusia jaman sekarang yang entah bagaimana cara untuk memusnahkannya karena belum ada anti virus yang tepat.
Namun memang setiap organisasi pasti ada kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jika ingin bergabung di organisasi Islam pun sangat amat banyak sekarang ini, namun manakah Islam yang sebenar-benarnya? Yang pasti adalah Islam yang menganut ajaran yang menjujung tinggi Al-Qur’an, Al-Hadits dan As-Sunah yang telah di contohkan oleh Rasulullah SAW dengan mempelajari hingga rinci dan mendasar. Ya di dunia yang fana ini memang lebih banyak manusia yang mencari kenikmatan duniawi semata tanpa memperhitungkan kehidupan abadi yang sebenarnya yaitu di akhirat kelak. Untuk itu bersyukurlah karena kita masih di beri umur untuk memperbaiki diri dan selalu ingat akhirat. Jazakumullah khairan katsiran.

Savety Riding versi VioletDeeres


Sedikit cuplikan dlm berkendara roda dua khususnya di ibukota..
Seperti di ketahui bagaimana kejamnya ibukota, saya akan memberikan sedikit pengetahuan saya setelah berguru dgn jalanan ibukota... Berikut cuplikannya cekidott...

1. Jangan terlalu dekat berkendara di belakang mobil. Seperti kita ketahui bahwa jalanan tidak dpt di tebak kelancarannya, bgtu juga dgn laju mobil yg berada tepat di depan kita, selain membahayakan jika tiba" mobil tersebut ngerem mendadak, kita juga tidak bisa melihat lubang di jalanan yg tertutup badan mobil alhasil kita dpt terperosok.

2. Jangan mengikuti bikers lain. Jika ada bikers yg jago selip di depan kita, kita jgn asal ngikutin biar cepet sampai, karena itu dpt membahayakan diri kita sendiri, karena dia selap selip untuk dirinya sendiri agar lebih cepat sampai tempat tujuan, kecuali anda mengikuti teman saat konvoi, rolling ataupun touring.

3. Berguru pada ahlinya. Jika anda ingin tahu bagaimana trik aman selap selip di jalanan ibukota dan sekitarnya alangkah baik bila anda meminta seseorang yg telah ahli untuk menjadi navigator anda dlm berlatih. Mintalah agar dia menunjukkan kapan anda boleh mendahului, kapan anda boleh pindah jalur, dan bagaimana trik selap selip yg baik.

4. Klakson seperlunya dan ga perlu blayer" ga penting. Klakson di buat agar pengguna jalan yg lain mengetahui kehadiran kita, menyapa sesama bikers club motor, dan memperingatkan jika kita ingin mendahului atau pengendara lain berada di jalur yg salah. Dan sebaiknya di pergunakan dgn semestinya.
Begitu juga penarikan gas, gunakan dgn semestinya agar mesin kendaraan juga tidak cepat panas dan apabila keseringan blayer" (biasanya buat pamerin suara knalpot racing yg berisik bin budekin) akan berpengaruh pada kanfas kopling. Kalo sudah begitu ya paling motornya masuk rumah sakit dan keluar biaya.

Nah itu sedikit ilmu yg saya dapat dari jalanan. Karena semestinya kendaraan di perlakukan seperti diri kita sendiri, mereka yg berjasa mengantar kita kemanapun kita mau. Jadi ga ada salahnya utk mengistimewakannya dan memodif atau vermak habis"an, tapi yg terpenting tetap lengkapi surat" kendaraanmu dan keep safety riding dimanapun kalian berada.

Pacar = Suami, Insya Allah

Apa sih yang kalian pikirkan tentang pacar? apa sih yang kalian pikirkan soal pacaran? apa sih yang membuat kalian ingin pacaran? banyak hal yang bisa ditanyakan dengan kata pacar. Tapi apa sih manfaat pacaran? Banyakan mana antara manfaat dan mudharatnya?

Ya aku adalah salah satu korban pacaran. Sepertinya belum lama aku jalan sana jalan sini, jalan sama si A, besoknya jalan sama si B, besoknya lagi jalan sama si C, dst. Di hari yang sama SMSan dan telfonan dengan mereka dan sama-sama sayang-sayangan. Aku anggap itu sebagai kesenangan duniawi. Ibarat kata itu mumpung masih muda, setianya nanti aja kalau sudah menikah. Namun apakah bisa segampang itu? Ternyata tidak. Lambat laun mereka menyadari bahwa mereka bukanlah satu-satunya, tapi anehnya mereka tidak juga minta putus seperti yang di sinetron-sinetron, tapi mereka berharap di pertahankan, kenapa? Lagi-lagi katanya karena cinta. Cinta dengan siapa? Dengan yang belum halal baginya. Dengan orang yang setiap saat bisa disahkan dengan orang lain. Pada saat mencoba setia ternyata sulit, karena masih saja ada perasaan khawatir akan terjadinya perselingkuhan seperti yang pernah aku lakukan. Jadi tak ada ketenangan dalam hubungan yang semu ini.


Dari situ aku berpikir. Aku terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan orang yang bukan hakku. Aku terlalu banyak berkorban demi orang yang bisa saja besok sudah tidak tersenyum untukku lagi. Atau bisa saja hari ini masih adem ayem tapi besoknya sudah saling menjelekkan satu sama lain. Aku mulai jenuh dengan hal-hal yang seperti itu, toh manusia memang tidak ada yang sempurna. Mau di cari sampai ujung dunia pun tak akan ada yang sesuai dengan harapan kita, seperti halnya aku sebagai manusia biasa yang sangat amat banyak kurangnya. 


Komitmen semu dengan di bumbui kebohongan, entah sadar atau tidak manusia yang jatuh cinta lebih mengutamakan sang pacar dari pada keluarga, sahabat, bahkan orang tuanya. Walaupun terakhir sangat jelas ku ingat jika aku lebih suka mempermainkan perasaan mereka toh mereka masih saja dikuasai cinta semu itu. Tapi aku sudah lelah dengan komitmen semu itu, bagiku itu hanya pengekangan dari kebebasan berekspresi dan seseorang yang seenaknya mencampuri privasi serta ingin tau segala privasiku. Aku tak ingin lagi menyakiti kalian, aku tak ingin lagi mengumpulkan dosa-dosa bersama perasaan yang seharusnya jadi pondasi dalam membina keluarga. Seharusnya perasaan sesuci dan sesakral itu hanya diberikan kepada orang yang benar-benar halal untuk kita.


Solusinya? Aku tak memaksa kalian bisa menjalani atau tidak, tersiksa memang aku merasa sangat amat tersiksa bila harus menjauhi orang yang selama ini tersenyum untukku, menangis untukku, menghiburku saat aku sedih, tertawa bersamaku, bertengkar dengan masalah yang sama, aku merindukan sesosok makhluk yang Tuhan ciptakan itu. Tapi aku sadar betul apa resiko bila bertahan di posisi itu. Karena sekarang aku sedang berusaha untuk mengalihkan perhatianku pada hal-hal yang lebih bermanfaat lainnya. Lagipula aku juga mempunyai orang tua yang sangat mencintaiku, aku punya keluarga yang bisa menerimaku apa adanya, aku juga punya sahabat-sahabat yang selalu ada untukku saat suka maupun duka. Jadi apa yang di khawatirkan dengan tidak berpacaran? Dekatkan diri pada Allah dan Allah akan membuatmu senantiasa nyaman dengan syariatnya. Justru rasa aman dan nyamanlah yang akan muncul dari menghindari maksiat itu.


Sekarang yang ada di pikiranku adalah melanjutkan perjuangan di perguruan tinggi ini, mencari sekeping emas, dan berdoa agar Allah selalu memberikan jawaban yang bisa ku pahami atas segala tanyaku. Ya aku memang tidak pintar dalam menerka-nerka tujuan Allah memberikan jalan seperti ini padaku. Aku harus berpikir keras dan menangis semalaman untuk mengerti dan memahami apa yang sebenarnya ingin Allah tunjukkan padaku. Aku yakin bahwa Allah berikan yang terbaik untuk seluruh umatnya. Dan sekarang aku tidak perlu bimbang dengan segala yang berhubungan dengan pasangan, Allah sudah menyediakan seseorang yang istimewa dan terbaik untuk membimbingku dunia akhirat. Tak lagi ada keraguan. Sekarang keraguan telah berganti dengan keyakinan akan rencana Allah yang sangat amat indah melebihi apa yang manusia bayangkan. Aamiin Aamiin Ya Robbal Alaamiin ^_^