Cerita ini bukanlah cerita fiksi,
ini sebuah cerita pengalaman hidup ditambah pemikiran dari seorang manusia
biasa yang sedang belajar, ingin belajar dan banyak salah. Berawal dari
kemajuan teknologi yang mengantarkan semua orang pada pertemuan-pertemuan jarak
jauh, entah dengan orang yang pernah di kenalnya sebelumnya atau bahkan yang
tak pernah di temui secara langsung hingga saat ini. Namun yang menarik adalah
ternyata banyak perubahan kawan lama ke arah yang baik. Ya, semoga Allah
senantiasa memberikan hidayah atas jalan hidup kita. Semoga kita bisa konsisten
dalam berbuat baik dan memperbaiki segala sifat buruk kita.
Tiba-tiba setelah bertahun-tahun
lamanya tak berjumpa dengan kawan lama, ada satu kawan lama yang menarik
perhatian. Di masa-masa kepolosan dan keluguanku dia bagaikan api yang siap
membakar pohon yang sedang tumbuh dengan baik. Ya aku tiba-tiba berpikir
seperti itu tentang dirinya. Astaghfirullah. Walau bagaimanapun ia tetaplah
hamba Allah. Dia tetaplah manusia yang bisa melakukan khilaf dan salah sama
sepertiku. Tak seharusnya aku mencelanya, apalagi memberikan pengandaian
kepadanya sebagai api. Namun aku bersyukur karena tak terbakar olehnya.
Kawan, ingatkah saat kau
mengambil uang saku ku dari dalam tas ku?
Kawan, ingatkah saat kau
mengambil uang saku ku dari dalam tempat pensil ku?
Kawan, ingatkah saat aku terpaksa
harus berjaga di dalam kelas dan menyuruh teman untuk membelikanku makanan agar
kau tak membuka tas ku?
Kawan, ingatkah saat aku memergokimu
sedang menggeledah tempat pensil ku yang berada di dalam tas ku? Yang kau
bilang kau hanya ingin meminjam pensil?
Kawan, aku ingin mengetahui ada
apa dengan kelas kita? kenapa bisa ada pencurian di ruangan kelas 1 Sekolah Dasar?
Kawan, kita masih terlalu dini
untuk mengenal kata pencurian, kita masih terlalu lugu untuk melakukan tindakan
kriminal, dan kita juga masih terlalu polos untuk mengotori diri dengan kebohongan.
Kawan, sebenarnya apa yang kau
inginkan dengan uang-uang itu? Aku bahkan belum mengerti bahwa uang adalah
benda yang sangat berharga dan aku baru tahu setelah aku dewasa bahwa untuk
mendapatkannya papa harus bekerja dari pagi hingga petang.
Kawan, sungguh aku masih terlalu
lugu dengan kehidupan pada saat itu. Aku masih terlalu polos untuk memikirkan
bagaimana untuk mendapatkan uang. Karena aku mendapatkannya dengan mudah dari
mama, dan kau mendapatkannya dengan susah payah dari dalam tas ku.
Tahun berganti dan aku tak lagi
memberikanmu kesempatan untuk menambah dosa yang orang tuamu tanggung. Tak ada
lagi uang yang aku taruh di dalam tas, semuanya ada di saku dan benar-benar
menjadi uang saku untuk ku. Aku harap itu menjadi akhir dari segala perbuatan
tak menyenangkan darimu dan biarlah kita lupakan segala yang telah terjadi,
sungguh aku tak meminta sedikitpun pertanggungjawaban darimu atas perbuatanmu
itu karena aku merasa mungkin dirimu hanya ingin membeli mainan dengan
uang-uang itu.
Aku sudah jarang mendengar kabar
darimu dan kawan-kawan lain setelah aku pergi ratusan kilometer dari kota
kelahiran kita. Tapi sekarang ternyata berhembus kabar tak mengenakkan lagi
darimu. Saat ini aku tak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkanmu dari cibiran
dan caci orang lain. Di usia yang sekarang mungkin aku sudah mengerti bagaimana
kepopuleran uang di tengah-tengah kehidupan kita, tapi kawan mengapa harus kau
lakukan lagi hal yang serupa tapi tak sama dengan hal yang pernah kau lakukan
dahulu?
Aku di sini hanya bisa
mengirimkan doa untukmu agar Allah tancapkan hidayah-Nya dalam-dalam ke hatimu dan
untuk keluargamu agar di berikan ketabahan juga kekuatan atas segala hal yang
telah kau perbuat. Kawan, kita pernah bertahun-tahun tumbuh di lingkungan yang
sama namun jalan mana yang kau pilih saat dewasa haruslah jalan yang membawamu
kepada kesuksesan dunia akhirat. Kawan, aku juga manusia biasa, namun karena itulah
aku merasa takut masuk neraka dan menginginkan surga. Kawan, maafkan aku jika
aku tak sependapat dan sepemikiran denganmu.
Aku mengerti bagaimana kekuatan
uang, terlebih kehidupan di kota ku tinggal sekarang. Tapi sebanyak apapun uang
yang manusia miliki takkan ada kata puas jika manusia hanya mengandalkan nafsu belaka.
Bersyukur dengan apa yang ada dan berusaha mendapatkannya dengan jalan yang
halal akan membawamu kepada kepuasan bathin. Aku yakin kau adalah anak yang
baik, kau pasti tak ingin orang tuamu menanggung malu dunia akhirat kan? Mari
sama-sama kita perbanyak bertaubat kepada Sang Pencipta, selagi belum terlambat
dan kita masih bisa untuk memperbaikinya.
Sahabat sejati takkan terlihat
saat kau mengaku kaya raya, sehat, dan cantik. Tapi sabahat sejati terlihat
saat kau mengaku miskin, sakit dan buruk rupa. Hasil yang baik diproses dengan
cara yang baik pula. Sesuatu yang didapat dengan jalan haram takkan pernah
mengantarkan pada keberkahan Allah. Aku tak ada niat untuk menyebarkan aibmu
karena tak satupun nama ku sebut di sini tapi aku harap kau mengerti bahwa
banyak yang akan tetap menyanyangimu meski kau bukan seorang permaisuri, surat
cinta ini ku buat dengan sebuah harapan akan kecintaan kita agar kembali kepada
Sang Pencipta.
Maafkan aku kawan jika ada
kata-kata yang salah dan menyakitimu, aku hanyalah manusia yang banyak dosa. Aku
hanya ingin menceritakan masa kecil kita dan masa kini kita yang aku pun lebih
banyak menghabiskannya untuk mengumpulkan dosa. Tapi percayalah Allah punya
rencana indah yang harus kita wujudkan dalam kenyataan. J