Fanatik, aku sempat ingin tertawa terbahak-bahak saat ada orang
yang berkata seperti itu padaku. Jika aku yang masih begini saja dibilang
fanatik bagaimana dengan kawan-kawan yang lebih dahulu berkecimpung dalam Rohis
dan organisasi-organisasi Islam lainnya? Mungkin mereka tidak akan berkedip
bila melihat segala aktivitas yang dilakukan kawan-kawan itu. Aku juga tidak
mengerti dari sisi mana mereka melihat kefanatikan itu pada diriku, padahal
jika diperhatikan sekilas saja segala tingkah lakuku masih sangat amat jauh
bila dikatakan fanatik yang sebenarnya. Jadi dari mana kata itu bisa
terpikirkan oleh mereka?
Mungkin bila mereka hanya berkata berubah aku masih akan
meng'iya'kan, karena jangankan mereka, orang-orang terdekatkupun (keluarga)
merasa betul perubahan pada diriku. Tapi jika perubahan itu ke arah yang baik
apakah harus ada kontra? Jika perubahan itu untuk menyudahi segala kezaliman
pada diri sendiri apakah harus dimusuhi? Ya kembali lagi pada kodrat kita
sebagai manusia, memang selalu akan ada pro dan kontra. Yang harus dilakukan
hanyalah bersyukur, ya mungkin agak ganjil bila rasanya saat dijelek-jelekkan
orang lain kita malah bersyukur. Tapi mereka yang menjelek-jelekkan kita,
mereka yang kontra dengan kita, bahkan mereka yang memandang kita sebelah mata
sesungguhnya mereka itulah orang yang lebih memperhatikan kita. Bahkan mereka
bukan hanya memperhatikan, karena mereka juga memberikan kritik bila yang kita
lakukan masih salah. Jadi, apa tidak sepatutnya kita bersyukur dengan
keberadaan mereka? Justru mata mereka melihat lebih jernih untuk mengomentari
segala kekurangan kita dalam menjalankan syariat Allah.
Aku sangat amat menyadari jika ilmuku belum ada apa-apanya, aku
juga belum bisa berbuat apa-apa, menjadi sesuatupun belum bisa. Namun aku yakin
Allah memberikan jalan yang terbaik untuk seluruh umat manusia. Tak peduli
manusia itu pengoleksi dosa ataupun seorang Muhajidin-Muhajidah, Allah sudah
menyediakan tempat terbaik untuk mereka. Jadi, memang tak ada kekhawatiran
apapun dalam hati ini karena aku sudah yakin dan sangat amat yakin akan janji
Allah kepada seluruh umat manusia. Tidak perlu memikirkan
kekhawatiran-kekhawatiran lain, karena yang harus kita lakukan saat ini adalah
menjalani setiap langkah kaki dengan pahala, menyertakan setiap hembus nafas
dengan bertasbih kepada Allah. Ya semua terasa lebih indah karena Allah
akan menyertai setiap langkah kita. Bukan seperti dahulu yang setiap langkah
kita disertai seruan-seruan menjerumuskan.
Dan berubahpun tak semudah apa yang dibayangkan. Dahulu aku
berpikir mungkin dengan berubah aku tak akan lagi dipandang wanita ‘nakal’ yang
pulang tengah malam atau dini hari, bahkan baru pulang keesokan harinya. Walaupun
aku tak melakukan hal yang aneh-aneh dan memang mereka tak tau dan tak mau tau
dengan apa saja yang aku lakukan, yang pasti mereka hanya melihat dan mendengar
aku pulang selarut itu sehingga pikiran negatifpun lebih banyak menyelimuti
pikiran mereka. Tapi aku menyadari walaupun sebenarnya aku tidak melakukan hal
yang aneh-aneh dengan pulang selarut itu tapi ternyata posisiku tetap salah
karena aku wanita dan diluar sana aku tidak untuk mencari pahala ataupun ilmu
dunia akhirat, tetapi mencari popularitas duniawi dan hanya duniawi. Dan lagi-lagi
dari kritiklah hatiku digugah.
Maha Besar Allah yang telah memberikan begitu banyak petunjuk
padaku yang aku selalu meremehkan dan menganggap segala kebaikan adalah suatu
keburukan. Namun Allah dengan sabar senantiasa mengalirkan dengan deras segala
petunjuk-petunjuknya hingga kini aku telah dapat tersenyum dan menyadari adanya
hikmah atas kejadian yang ada dan menerima dengan ikhlas segala yang terjadi di
masa lalu. Segala ingatan itu mungkin akan terus ada, namun inilah yang akan ku
jadikan pondasi agar tak lagi terulang kesalahan yang sama.
Dan lagi-lagi olokan beserta sindiran masih jelas terdengar saat
aku telah memutuskan untuk berhijab. Ya mungkin aku dianggap masih main-main
dengan hijab ini, dan aku tidak akan berkata apapun untuk membela diri dan
menyangkalnya karena aku hanya bisa meminta kepada Allah disetiap harinya agar
Allah senantiasa meneguhkan hatiku dan memperkuat imanku sehingga aku tidak
tergoda akan duniawi yang berlebihan. Dan sekali lagi sindiran itu menjadikanku
semakin teguh untuk tidak main-main dengan komitmen. Senyuman-senyuman mereka
akan kelengahanku ku jadikan sebuah teguran untukku bisa memperbaiki diri dari
hari ke hari walaupun pada nyatanya itu sangat amat sulit. Namun tak ada yang
tidak mungkin, jika Allah sudah berkehendak maka apapun bisa terjadi. Dan aku
tak akan menyia-nyiakan kesempatan akan hidayah Allah yang sebenarnya sudah
Allah kirimkan padaku berkali-kali di kesempatan sebelumnya.
Rasanya seperti tak percaya pada diri sendiri jika melihat diriku
yang beberapa bulan silam, walaupun memang saat ini aku masih biasa saja, namun
rasanya segala kegiatanku saat ini berubah 180 derajat dari masa lalu, dan
kesibukan akan kehausanku dengan popularitas berubah menjadi kehausan akan
kehidupan dunia yang berlandaskan akhirat, Insya Allah. Saat ini bagiku tak ada
waktu untuk menangisi masa lalu, tak ada waktu untuk menangisi kata orang. Karena
saat ini yang aku inginkan hanyalah ilmu, ilmu dan ilmu. Ilmu yang akan
mengantarkan umat manusia pada surga-Nya. Aku ingin berjalan satu barisan
dengan Rasulullah di akhirat nanti. Aku ingin menjadi anak solehah yang
menyelamatkan kedua orangtuaku dari api neraka. Dan semua itu tak akan bisa
terjadi tanpa kritik, saran, sindiran, bahkan olokan dari umat manusia.
I Love Allah